Kerusakan Alat Dan Oknum Sebabkan Layanan Perpajakan Lambat

by
IMG-20180906-WA0004

Orang bijak taat pajak itulah kalimat tidak lain tujuan pemerintah selalu mengingatkan seluruh warga negara agar sadar patuh terhadap kewajiban untuk membayar pajak, sesuai dengan kapasitas masing masing.

Pemerintah Kabupaten subang melalui “BPKAD”, Badan pengelolaan Keuangan Daerah”.merupakan salah satu badan yang terbagi menjadi “Pendapatan Asli Daerah”, terbagi 2 bidang yaitu PAD 1 dan PAD 2. kedua bidang tersebut menjadi berbagai sumber pendapatan asli daerah seperti: PBB , BPHTB, PAJAK HOTEL, PAJAK PARKIR, PAJAK HIBURAN, PAJAK REKLAME, PAJAK AIR TANAH, PAJAK RESTORAN, PAJAK BURUNG WALET, PAJAK PENERANGAN JALAN, PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM BATUAN.

BPKAD melalui PAD 1 dan 2, sangat di harapkan sekali, sebagai sumber pendapatan asli daerah harus memenuhi target, seperti penghasilan pajak per tahunnya, karena seperti kita ketahui “APBD 2, dalam setiap tahunnya sebelum diterapkan terlebih dahulu di sahkan melalui sidang paripurna DPRD Subang.

Selain di pergunakan untuk belanja dan gaji pegawai (PNS), juga peningkatkan pembangunan dalam berbagai sektor insfratuktur khususnya Kabupaten Subang.

Namun sangat di sayangkan ketika BPKAD, bidang PAD 1 menuai protes dari masyarakat wajib pajak PBB dalam bentuk pelayanannya banyak masyarakat yang mengeluh lama dan susahnya mendapatkan bukti setoran SPPT.

Di duga ada oknum pegawai pajak tersebut yang meminta dan menerima imbalan dalam mengurus pembayaran pajak. selain itu sudah beberapa hari terhambat dalam pelayanannya terhadap para masyarakat wajib pajak yang datang karena ada alat terkena petir.

Ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut Kepala Bidang PAD 1 Fahrudin ketika ditemui jabarpublisher.co 5/9/2018, membenarkan pelayanan di bidangnya belum maksimal dan banyak masalah, menurut pengakuannya pada hari senin 3/9/2018.secara teknik telah terjadi kerusakan alat yang sangat berpengaruh dalam pelayanan terhadap masyarakat wajib pajak. “karena kami disini dalam pelayanan mempergunakan jaringan berbasis komputer, namun pada hari senin terkena petir yang akhirnya sistem tidak bisa berjalan sampai dengan sekarang ini, untuk sementara ini pelayanan berjalan secara manual kami sudah berupaya melakukan perbaikan dan mencari alat yang harus di ganti terkena petir tersebut”

Dalam kesempatan tersebut disampaikan juga adanya dugaan praktik pungli yang diadukan oleh masyarakat “saya sebagai kepala bidang sangat mengecam dan akan bertindak tegas ketika terbukti ada kasi atau staf dibidangnya yang melakukan pungli terhadap masyarakat wajib pajak kepada oknum tersebut baik yang meminta maupun menerima “pungli” kepada yang bersangkutan apabila terbukti akan diproses secara hukum, saya juga akan bertindak selain menegur keras , akan merekomendasikan kepada pimpinan agar
Oknum tersebut di pindahkan bahkan dipecat, demi menjaga nama baik lembaga, dan diri saya sendiri sebagai kepala bidang disini” ujarnya.

Menurut Fahrudin yang baru beberapa bulan menjabat menjadi kabid PAD 1, beberapa bulan yang lalu kasus dugaan pungli pernah terjadi yang di lakukan beberapa orang oknum stafnya dan sudah diberikan sanksi berupa pemindahan dan penundaan pangkat.

Sementara itu kaitanya dengan pengurusan urusan pajak yang mau setor untuk mendapatkan SPPT, masyarakat wajib pajak tidak di pungut biaya dalam bentuk apapun yaitu gratis, masyarakat hanya berkewajiban membayar setoran sesuai dengan obyek kepemilikanya masing masing melalui proses pembayaran di bjb yang sudah disediakan disini untuk memudahkan pelayanan.

“Saya tegaskan jangan sampai terjadi ada oknum Kasi, Stafnya maupun bawahan yang meminta, menerima dari masyarakat wajib pajak” tegasnya

Iapun menghimbau kepada masyrakat wajib pajak yang datang langsung ke kantor jangan sekali sekali memberikan sejumlah uang tertentu kepada oknum bawahanya agar supaya proses untuk mendapatkan SPPT bisa dipercepat.

“Saya sarankan bagi masyarakat yang datang langsung agar mengurus melalui petugas yang telah siap dengan pungsi pelayanan masing masing” pungkasnya. [Mat]

Tinggalkan Komentar