Tutunggulan, Seni Tradisional Khas Sunda Yang Semakin Terlupakan

by
008

tutuSeni buhun Tutunggulan adalah kesenian yang berawal dari tradisi yang berkembang di daerah agraris khususnya di jawa Barat. Konon berawal dari kebiasaan masyarakat yang dilakukan turun temurun nenek moyang.  Tutunggulan diambil dari nutu/numbuk yaitu aktivitas masyarakat tempo dulu jika seusai panen padi.  Mereka mengolah padi untuk menjadi beras dengan gabah-gabah yang diikat, lalu ditumbuk. Medianya adalah sebuah lisung dan alu/antan untuk menumbuk. Biasanya mereka melakukan kegiatan ini tidak seorang, tetapi dilakukan secara berkelompok atau bersama-sama.  Saat menumbuk padi itulah  benturan halu saling berganti mengenai bagian lisung menghasilkan suara khas. Walaupun kurang teratur, tetapi membentuk harmonisasi. Dalam perkembangannya, lambat laun tutunggulan ini berkembang menjadi salah satu kesenian khas masyarakat sunda pada zamannya.

Salah seorang tokoh seni tradisional daerah yaitu Bapa Amung Suraga menceritakan hal ihwal ada dan berkembangnya seni tutunggulan. Menurut beliau Seni Tutunggulan mulai ada dan berkembang pada awal turunnya agama Hindu, kemudian berganti agama Budha pada era kerajaan Medang Kamulang dengan rajanya Pangeran Aji Saka. Kemudian berlanjut pada fase berkembangnya agama Islam di Jawa.

“Tutunggulan dipakai untuk memanggil masyarakat untuk berkumpul. Para Wali/Sunan menggunakan media seni tutunggulan untuk media dakwah dan proses mengembangkan agama Islam. Dipanggilnya seluruh masyarakat untuk menonton. Mereka yang datang diperbolehkan menonton pertunjukan dengan tiketnya yaitu masuk agama Islam!” begitu ungkap Amung Suraga ketika ditemui pada selasa, 29 Juli 2018 lalu. Di rumahnya di Dusun Buah Dua Desa Margasari Kecamatan Dawuan- Subang.

Lebih lanjut, Amung suraga menerangkan bahwa Seni yang menyangkut seni vakum tradisional rata-rata memiliki ciri yaitu Raga, Rasa dan Wirahma.

“Raga yaitu badan yang bergerak, menabuh, memukul benda atau alat untuk dijadikan musi. Rasa, yaitu kenikmatan yang dihasilkan dan wirahma adalah kebersamaan hingga menghasilkan suatu nada atau irama”

Dalam seni Tutunggulan, lagu yang dinyanyikan biasanya sudah seperti diwajibkan. Yaitu pada lagu bubuka adalah lagu Kubrung dengan langgam beluk. Lagu kedua lagu Sepak Kuda dengan laras pelog dan lagu ketiganya adalah lagu Rujak Huni dengan langgam Mitra. Ketiga lagu itu merupakan lagu khas seni tutunggulan yang baku atau menurut vakemnya.

Yang memprihatinkan, seiring perkembangan zaman, tutunggulan yang masih dijumpai diadakan di beberapa acara khusus dan dilestarikan beberapa daerah di jawa Barat seperti Subang, Sumedang dan Cianjur ini menjadi seni buhun yang sudaha sangat langka dan hamper punah keberadaannya. Beberapa factor seperti susahnya menularkan ajaran tabuhan lesung dan halu, langgam kidung yang sangat sulit dan semakin susahnya mendapatkan lesung dan halu sebagai sarana alat musiknya membuat Seni Tutunggulan susah untuk menumbuhkan regenerasi.

Hal ini diakui oleh Amung Suraga yang merupakan dalang dan bisa memainkan beberapa alat musik tradisional seperti kendang, kecapi, suling, rebab bahkan pantun ini. Sudah puluhan tahun Ia bergelut untuk mencoba melestarikan seni budaya warisan leluhur ini tapi seperti jalan di tempat.

Bahkan Piala Bergilir dan predikat Juara terbaik sekabupaten yang pernah didapatkan dari Pasanggiri Tutunggulan Se-Kabupaten Subang pada tahun 2010 pun hanya menjadi kenang-kenangan yang mengisi sudut rumahnya.

“Tak ada tindak lanjut lagi setelah itu. Bahkan Piala Bergilir yang seharusnya ditandingkan lagipun malah abadi berada di sini. Karena tak saingan mungkin. Padahal bukan piala dan hadiah yang diinginkan. Sebagai pecinta seni buhun, kami hanya ingin pemerintah ada perhatiannya agar seni buhun ini terus berkembang dan ada pembinaan supaya ada regenerasi. Agar seni tradisional tidak tergerus di tengah peradaban dan tergantikan bermunculannya seni-seni modern!” terang Amung Suraga lebih pada pengharapannya.

Seperti juga harapan para pelaku Seni tradisi, salah satu komunitas yang bergerak dalam pelestarian Seni budaya lokal yang tergabung dalam pangauban Sanggar Waringinpun menginginkan hal yang sama. Berharap dan berupaya agar seni dan budaya tradisi tidak hilang di tengah kehidupan yang semakin modern ini. Karena kekayaan lokal menjadi unsur yang sangat berpengaruh pada kekayaan Nasional. (Ratna Ning/Jabar Publisher)

 

Tinggalkan Komentar