Menolak Lupa Untuk Sejarah Patenggeng

by
SITUS SEJARAH 001

 

KOMPPAS 017Berada di areal sekitar 2800 meter persegi, Situs Sejarah Patenggeng yang terletak di tanah milik Herdi Bin Rusta, yang ada di wilayah Desa Margasari Kecamatan Dawuan, keadaannya sangat memprihatinkan untuk sebuah situs yang sudah tercatat di babad sejarah Subang.

Hal itu disaksikan sendiri ketika Jabar Publisher berkunjung ke situs itu pada Rabu tanggal 18 Juli 2018. Untuk sampai di situs itu, harus berjalan agak menanjak karena situs Patenggeng letaknya di atas bukit. Di sebelah timurnya terdapat sungai Ciasem yang merupakan sungai kecil, banyak batu dan deras alirannya. Di kiri kanan sungai ini terdapat pesawahan yang letaknya lebih tinggi dari aliran sungai namun lebih rendah dari pemukiman. Dari situ pulalah banyak ahli yang menyimpulkan bahwa dahulu daerah pesawahan ini sendiri adalah bagian dari sungai ciasem tersebut. Ini menandakana bahwa sungai tersebut sangat lebar dan mungkin bisa dilayari atau menjadi alat transfortasi dari muara sungai sampai ke tempat itu.  Dan dimungkinkan Patenggeng adalah pusat pelabuhan pada waktu itu.

Menurut cerita Pak Sanen, juru kunci sekaligus juru pelihara yang ditemui sehari sebelumnya, Patenggeng itu berbentuk Kutawaringin. Beliau tidak memastikan bahwa di sana pernah berpusat sebuah kerajaan. Seperti yang tertulis dalam buku Sejarah Subang yang beliau perlihatkan, Pak Sanen hanya mengatakan bahwa di sana pernah ada sebuah kampung atau babakan.

SITUS SEJARAH 003“Istilahnya adalah kabuyutan. Karena pada masa itu tak ada kabupaten atau kecamatan. Yang bermukim di sana adalah Raja Brajadikeling dengan patihnya yang bernama Raden Kalangsungging. Ya itulah, seperti yang tercatat dalam buku sejarah Subang”. Tutur Pak Sanen dengan terbata.

Tentang statusnya sebagai Juru kunci dan juru pelihara, Pak Sanen yang sudah ditunjuk/diangkat jadi Juru kunci sejak tahun 1985 ini bercerita banyak tentang Situs Patenggeng serta harapan-harapannya.

“Situs Patenggeng sudah mulai digali sekitar tahun 1975. Waktu itu Bapak belum diangkat jadi juru kunci. Kemudian di gali lagi tahun 2004. Waktu penggalian tahun 75 itu ditemukan alat-alat dari keramik china. Pada tahun 2004 di gali lagi. Hasilnya semua dibawa oleh orang peneliti dari badan Arkeologi, ke Bandung. Katanya untuk penelitian” begitu kata Pak Sanen.

Salah seorang tokoh masyarakat yang mewakili, mengatakan bahwa dengan adanya situs Patenggeng yang nyata-nyata adalah bukti sejarah Subang kuno dengan diadakannya penggalian dan penelitian, masyarakat kemudian mempertanyakan bagaiamana tindak lanjut dari pemerintah yang berkompeten untuk pemeliharaan cagar budaya tersebut.

“Hal-hal seperti kesejahteraan pengurus dalam hal ini Pak Sanen sebagai juru kunci sekaligus juru pelihara Situs, sampai saat ini taka da realisasinya. Padahal beliau sudah ditetapkan dalam SK dan mengikuti berbagai prosedur seperti pelatihan dan diklat. Lalu pemeliharaan dan perbaikan situs” terang Aceng Nana pada Jabar Publisher.

KOMPPAS 019“Kami hanya berharap pemerintah menindaklanjuti pemeliharaan situs Patenggeng ke depannya agar jangan sampai punah sebagai cagar budaya. Karena sampai saat ini observasi dari pihak terkait seperti badan-badan penelitian sejarah dan arkeologi masih terus berdatangan. Bahkan masyarakat yang tahu dari mulut ke mulut bahkan dari sumber di google masih berdatangan untuk menyelusuri sejarahnya. Sementara  tempat yang sudah dinyatakan situsnya keadaannya tak terawat. Bahkan tak layak disebut sebagai tempat cagar budaya, karena tak terdapat monument yang menunjukan bahwa disitu terpusat sebuah peradaban tempo dulu yang sudah dibuktikan dengan penggalian dan didapati benda benda sejarahnya” lanjut Aceng Nana lagi.

Hal itu diamini oleh Pak Sanen selaku juru kuncinya.

“Saung itu saja dibuat oleh seorang donatur peziarah. Hanya saung itu saja. Untuk sertifikat jupel ini yang harus diperpanjang tiap tahun, sudah dua tahun ini tidak diperpanjang. Diperpanjang kan pake biaya administrasi. Tapi kalau tidak ada tindak lanjutnya untuk apa?” terang pak Sanen pada JP.

Sudah saatnya para sejarawan sunda khususnya yang ada di Subang harus menggali tentang siklus dan situs sejarah ini agar terbuka. Kalau hanya merusak dengan menggali, mengambil benda-benda bersejarah dan sudah terbukti banyak ditemukan benda-benda sejarahnya, tapi tak ada realisasi untuk pengembangan dan pemeliharaan kepada situs Patenggeng, seperti situs-situs lainnya yang sudah dikembangkan, untuk apa semua penelitian diadakan dan untuk apa Patenggeng kemudian dinyatakan sebagai situs sejarah? Kata Aceng Nana menutup perbincangan di sela-sela pemotretan. (Ratna Ning – Jabar Publisher)

Tinggalkan Komentar