Bantuan Siswa Miskin, Sasaran, Kendala Dan Kenyataan Di Lapangan

by
dana-bsm

Program BSM adalah Program Nasional yang bertujuan untuk menghilangkan halangan siswa miskin berpartisipasi untuk bersekolah dengan membantu siswa miskin memperoleh akses pelayanan pendidikan yang layak, mencegah putus sekolah, menarik siswa miskin untuk kembali bersekolah, membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran, mendukung program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (bahkan hingga tingkat menengah atas), serta membantu kelancaran program sekolah.

Melalui Program BSM ini diharapkan anak usia sekolah dari rumah-tangga/keluarga miskin dapat terus bersekolah, tidak putus sekolah, dan di masa depan diharapkan mereka dapat memutus rantai kemiskinan yang saat ini dialami orangtuanya.  Program BSM juga mendukung komitmen pemerintah untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan di Kabupaten/Kota miskin dan terpencil serta pada kelompok marjinal.

Program ini bersifat bantuan langsung kepada siswa dan bukan beasiswa, karena berdasarkan kondisi ekonomi siswa dan bukan berdasarkan prestasi (beasiswa) mempertimbangkan kondisi siswa, sedangkan beasiswa diberikan dengan mempertimbangkan prestasi siswa.

Dana BSM diberikan kepada siswa mulai dari tingkat dasar hingga Perguruan Tinggi dengan besaran sebagai berikut:

  1. BSM SD & MI sebesar Rp  225.000 per semester atau Rp 450.000 per tahun.
  2. BSM SMP/MTs sebesar Rp 375.000 per semester atau Rp 750.000 per tahun
  3. BSM SMA/SMK/MA sebesar Rp 500.000 per semester atau Rp 1.000.000 per tahun.

Keterangan tersebut di atas di dapat dari TNP2K yang dikutip langsung oleh Jabar publisher.co dari laman Tim Nasinal Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K)

Sasaran BSM ini, seperti dinyatakan TNP2K adalah jelas untuk bantuan siswa miskin berdasarkan kriteria kondisi ekonomi siswa dan bukan berdasarkan prestasi siswa. Siswa yang pintar dan miskin jelas adalah sasaran utama sedangkan siswa yang pintar tapi dalam kondisi ekonominya mencukupi, tentu saja bukan sasaran BSM. Atau secara keseluruhan BSM ditujukan pada kelompok marinal atau siswa di daerah terpencil dan mencapai rata-rata kriteria kemiskinan (karena susahnya akses informasi dan transformasi)

Tetapi pada kenyataannya di lapangan, BSM terbentur pada beberapa kendala dan ketidaktepatan atau kurang tepatnya sasaran. Seperti kenyataan di beberapa Sekolah Dasar yang siswanya menerima BSM. Di situ banyak terdapat siswa yang orangtuanya mampu bahkan lebih dari mampu secara ekonomi, mendapatkan dana bantuan BSM. Ini pantauan JabarPublisher.co di beberapa Sekolah Dasar. Di sisi lain, siswa yang secara ekonomi kurang mampu justeru tidak mendapatkan bantuan tersebut.

Ironisnya adalah, setiap program bantuan miskin yang digulirkan selalu terbentur pada masalah serupa. Yang berhak mendapat, terabaikan. Sedangkan yang tidak berhak, justeru mereka yang mendapat akses.

Pada akhirnya banyak yang berkesimpulan, segala bentuk bantuan untuk mengentaskan kemiskinan adalah program mubazir yang selayaknya dihilangkan atau diganti dengan program yang lebih bisa tepat sasaran.

Tapi, pendapat itu bukanlah solusi yang tepat. Negara Indonesia adalah negara yang masih berkembang dimana tingkat kemiskinannya masih cukup tinggi dan memang perlu sokongan dan bantuan pemerintah dengan program-program yang dititikberatkan untuk mengentaskan kemiskinan di segala bidang. Baik itu pendidikan, kesehatan, perekonomian bahkan ke tingkat penataan populasi penduduknya.

BSM, adalah program yang direncanakan dan penyempurnaan dari program-program pendidikan yang telah ada, dengan kalsifikasi khusus untuk siswa miskin. Selayaknya program ini bahkan terus berkembang dan terus ditingkatkan lagi bentuk pengawasan dan pelayanannya supaya tidak semakin keluar jalur dan tepat sasaran. Verivikasi data terbaru, akurat dan langsung ke sasaran dengan meninjau bantuan yang telah diberikan, langsung pada yang menerima adalah pe-er yang harus dilaksanakan instansi terkait program. Karena selama ini, jika ada yang mempertanyakan tentang BSM dan penerimanya, pihak sekolah yang membagikan dana kepada siswa, mereka selalu memberikan jawaban bahwa penerima dana BSM yang tercantum sudah valid hasil data yang keluar dari pemerintah.

Bisa jadi, data itu berasal dari data lama sesuai catatan data miskin yang sudah ada dan tanpa diperbaharui lagi, data itu kemudian keluar. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dan keadaan yang bisa merubah taraf kemiskinan berubah sesuai perkembangan. Maka hal yang paling bijaksana adalah, benahi BSM, Verivikasi data langsung ke lapangan, pilih petugas pendata dari masyarakat atau pekerja sosial yang netral dan lakukan pendataan secara door to door. (Ratna Ning)

Tinggalkan Komentar