Siapa Beni Pramula

by
Beni Pramula Tengah
Beni Pramula Tengah

Jakarta – Pada tanggal 20-22 April 2015, Beni Pramula resmi dipilih menjadiPresident of Asian-African Youth Government (AAYG) alias Presiden Organisasi Internasional Pemuda Asia-Afrika. Beni dipilih oleh delegasi pemuda dari 21 negara dalam Konferensi Pemuda Asia Afrika Plus 2015, di Bandung.

Namun siapa sangka, perjuangan sang presiden sebelum menjadi orang nomor satu pemuda Asia-Afrika, ia sempat tinggal di Musolah Al-Ihlas sebagai penjaga atau marbot, tepatnya di Komplek KPKN Ciceuri, Kelurahan Sumurpecung, Kecamatan Serang-Banten. Kala itu, Beni masih kuliah di STIKOM Wangsa Jaya Banten (WJB) tahun 2007-2010.

Sebelum menjadi tokoh pemuda dikancah internasional, Beni Pramula mengaku senang belajar bersama aktivis organisasi kemahasiswaan, dia menelaah kegiatan organisasi kemahasiswaan pada saat menjadi mahasiswa semester dua di STIKOM WJB. Menurutnya, berorganisasi sama saja belajar mengatur kehidupan dan belajar memimpin sekelompok orang untuk mencapai tujuan. Suatu saat, Beni berharap dapat menjadi pemimpin yang bisa berdiri tegap sambil berpidato sebagai pimpinan di mimbar acara Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Dalam menjajaki keyakinannya, dia percaya berorganisasi akan membawa dirinya menjadi seorang pemimpin dunia, Beni mulai bergabung dengan organisasi ekstra kampus bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sedangkan jenjang organisasi yang dijalaninya, mengamanahkan Beni sebagai Ketua Komisariat IMM STIKOM WJB tahun 2008. Berlanjut menjadi ketua PC IMM Kabupaten Serang 2009, kemudian Ketua DPD IMM Banten 2010, hingga dipilih oleh kader IMM seluruh Indonesia sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM periode 2014-2016 dalam Muktamar IMM di Solo pada tahun 2014.

Bagi Beni, sejarah adalah apa yang ditorehkan hari ini untuk generasi mendatang, menulisnya dengan tinta emas atau catatan kelam. Dalam beberapa tulisan dan orasi-orasi intelektualnya, ia sering mengatakan bahwa musuh abadi adalah apatisme, perjuangan sejati adalah membangun kesadaran.

Dari ungkapan itu, Beni punya cita-cita besar sebagai tokoh dunia yang bisa menjadikan Indonesia disegani oleh negara-negara lain. Untuk mencapai semua itu, ia belajar segala hal dari organisasi, diantaranya belajar tentang, kepedulian terhadap manusia, bertekad membangun dan pantang menyerah.

Selama berperan sebagai aktivis organisasi, tekadnya untuk memajukan bangsa semakin menjadi. Bahkan konsep dan gagasannya ia ungkapkan dalam agenda-agenda internasional. Sebagaimana acara internasional yang diikutinya sebelum menjadi President of AAYG yaitu mewakili pemuda Indonesia dalam kegiatan Indonesia – India Youth Exchange Program 2012di New Delhi India.

Peran lain dikancah Internasional, Beni menjadi utusan pemuda Indonesia untuk mengikuti G-20 SUMMIT Model United Nations 2013 di Belanda. Disana ia mempresentasikan materi seminar tentang Pengangguran Pemuda dan Solusinya. Presentasi itu ia sampaikan dihadapan pemuda dari seluruh dunia.

Ditahun yang sama, yaitu tahun 2013. Beni juga mewakili pemuda Indonesia dalam acara Asean – China Youth Camp 2013 di Nanning, China. Kemudian karena dianggap menjadi tokoh gerakan pemuda yang peduli terhadap perdamaian dunia, dia diundang oleh Pemerintah Kerajaan Bahrain Semenanjung Arab untuk mempresentasikan materi seminar diacara  International Youth Conference 2013 di Bahrain.

Pada tahun 2014, disinilah Beni mendapat amanah besar karena harus memimpin anggota IMM seluruh Indonesia yang saat ini memiliki kepengurusan di tingkat kampus, kabupaten/kota, sampai pusat. Namun masih tetap mengharumkan Indonesia dengan didaulatnya oleh forum Organisasi Kerjasama Pemuda Islam yakni menjadi Presidium Sidang Pemuda OKI (OIC) Di Istanbul Turki 2014.

Bukan semakin longgar, namun pada tahun tanggal 20-22 tahun 2015 saat Konferensi Pemuda Asia-Afrika. Beni justru dibaiat menjadi pimpinan organisasi internasional yang menjadikannya sebagai, President of Asian-African Youth Government (AAYG).

“Memang betul, kita bangsa Indonesia harus merebut momentum, meretas zaman, dan menduniakan gerakan,” kata Beni saat berbincang-bincang dengan tim PN.

Dari sebagian prestasi yang pernah diraihnya itu, namun siapa sangka, pemuda ini lahir dan besar di sebuah kampung nun jauh dari komunitas ramai. Sebuah daerah kecil yang mungkin tidak banyak orang tahu apalagi menghafalnya, yaitu Prabumulih Muaralakitan.

Bagaimana tidak unik, di Megang Sakti-nama sebuah dusun tempat tinggal Beni waktu kecil-, ia dikenal sebagai tukang tambal ban yang ulet. Dengan keuletan, kerja keras, dan aura sebagai sosok bersahaja yang mandiri, membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk melepas jauh, si Beni Pramula ke tanah Banten, sebuah provinsi yang kerap disebut orang sebagai tanah jawara. Di Banten dia tumbuh besar menjadi pria dewasa yang lebih mandiri.

Di Banten pula Beni tinggal di Musolah Al-Ikhlas, karena tidak memiliki tempat tinggal pada saat baru merantau di Banten. hal itu berlangsung selama Beni menjadi mahasiswa semester I sampai IV.

[JP Team|Berbagai sumber]

Tinggalkan Komentar