Propaganda Gencar Prabowo Propaganda Gencar Prabowo
Bukan Prabowo namanya kalau tak berbunyi nyaring. Berbagai urusan di segala sektor ia kritik, dan hampir semua memicu kontroversi. Begitulah memang gaya Prabowo Subianto... Propaganda Gencar Prabowo

Bukan Prabowo namanya kalau tak berbunyi nyaring. Berbagai urusan di segala sektor ia kritik, dan hampir semua memicu kontroversi. Begitulah memang gaya Prabowo Subianto yang seorang oposisi. Dan energi sang calon presiden makin meluap belakangan.
Amunisi Ketua Umum Gerindra itu bak tiada habis. Di mana saja dan kapan saja, ia bisa mendadak memuntahkan peluru. Bisa dibilang, itu sudah pekerjaannya sehari-hari. Bukan tanpa tujuan, sebab ia hanya punya peluang sempit di Pemilu 2019.
Sepekan sebelum hari pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah, ia menembakkan sedikitnya setengah lusin kritik tajam yang kemudian ramai-ramai ditangkis oleh para menteri Jokowi. Mayoritas kritik–bisa diterka–ialah tentang utang luar negeri Indonesia
Tak cuma kritik yang keluar dari mulut Prabowo, tapi juga gagasan polemis. Paling anyar tentang keinginannya memindahkan makam Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol ke daerah asalnya masing-masing–yang lalu jadi blunder karena Islam tidak menyarankan untuk membongkar kuburan kecuali dalam kondisi darurat.
“Memang sudah saatnya Pak Prabowo (sering) muncul di hadapan media,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Andre Rosiade, saat berbincang di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (26/6).
Luapan energi Prabowo itu diklaim Gerindra berdampak positif pada Pemilihan Kepala Daerah Serentak yang baru berlangsung. Sosok Prabowo yang identik dengan kampanye #2019GantiPresiden yang digaungkan Gerindra, PKS, dan PAN disebut menjadi faktor pengerek suara pasangan calon.
“Ada Prabowo effect cukup tinggi meski tentu saja ada pengaruh-pengaruh lain seperti mesin partai, tokoh-tokoh, ulama, dan habaib,” kata Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon di sela acara halalbihalal Universitas Bung Karno di Jakarta, Jumat (29/6).
Hal tersebut diamini Adjie Alfaraby, peneliti Lingkaran Survei Indonesia. Menurutnya, pendukung Prabowo amat loyal. Apa yang dipilih Prabowo, itulah yang mereka dukung.
Meski persentase kemenangan Gerindra pada Pemilihan Gubernur terhitung paling rendah menurut survei berbagai lembaga, PAN dan PKS yang banyak bermitra dengannya beroleh hasil memuaskan.
“Akhirnya keputusan (masyarakat) untuk mendukung pasangan yang kami dukung itu lebih banyak didasari oleh sentimen ganti presiden itu,” ucap Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono, Kamis (28/6).
Gerindra yang sebetulnya hanya mampu memenangkan tiga gubernur dari total 17 Pilgub, cukup senang karena berhasil memberi kejutan di provinsi padat penduduk: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.
Pasangan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu yang diusung Gerindra-PKS di Jawa Barat berhasil melejit ke posisi kedua–di bawah Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul–dengan perolehan suara berdasarkan quick count hampir 30 persen, melampaui berbagai hasil survei politik selama ini yang menyebut elektabilitas mereka di bawah 15 persen. Mesin politik PKS yang solid jadi tumpuan di sini.
Di Jawa Tengah yang menjadi kandang ‘banteng’, perolehan suara Sudirman Said-Ida Fauziyah yang diusung Gerindra bersama PKS, PAN, PKB, juga melambung ke angka 40 persen lebih berdasarkan hitung cepat, merangkak naik dari hanya 20-an persen pada survei-survei politik yang digelar beberapa bulan sebelumnya, dan menggerus suara petahana Ganjar Pranowo yang semula digdaya di angka hampir 70 persen.
Di Sumatera Utara, kemenangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah–yang diusung koalisi gemuk Gerindra, PKS, PAN, Golkar, Nasdem, Hanura, Demokrat, PKB–atas pasangan Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus yang dimotori PDIP, juga menjadi kegembiraan buat Gerindra.

Hasil Pilkada jadi pijakan untuk Pemilu 2019 yang kian dekat. Prabowo tetap membutuhkan lampu sorot sebanyak mungkin untuk menandingi kemunculan Jokowi sebagai petahanan.
Untuk menunjang propaganda gencarnya, Facebook Page Prabowo Subianto–yang menjadi etalase politiknya di jagat maya–kini digarap serius.
Dalam seminggu, Facebook Page Prabowo Subianto mengunggah empat video buatan sendiri dalam berbagai tema, mulai dari pesan untuk kader, pengumuman penggalangan dana kampanye, sampai program baru bertajuk ‘Diskusi Bersama Prabowo’.
Video ‘Diskusi Bersama Prabowo’ dikemas layaknya diskusi ringan antara Prabowo dengan beberapa orang kader Gerindra dan non-kader. Konten diskusi itu baru ia unggah dua kali, 24 Juni dan 26 Juni, dengan topik tak jauh dari perkara-perkara yang menjadi atensinya selama ini–kesehatan masyarakat, prestasi sepak bola nasional yang buruk, hingga, tentu saja, perekonomian bangsa.
“Live streaming yang dilakukan Pak Prabowo disebar oleh kader Gerindra. Tentu bisa membuat militansi kader bertambah,” ujar Ferry.

Pada episode kedua ‘Diskusi Bersama Prabowo’, Prabowo membawa satu bundel dokumen berisi data tentang berbagai isu dari ragam sumber. Salah satunya adalah angka kualitas air bersih dari Environmental Performance Index milik Yale University, Amerika Serikat, yang menempatkan Indonesia di ranking 133 dari 200 negara (Prabowo selip lidah dengan menaikkannya 10 peringkat ke nomor 123)
Prabowo juga memaparkan data lain seperti angka kematian bayi dan konsumsi protein–persoalan yang sejak lama juga kerap ia singgung.
Selanjutnya ia menyentuh isu olahraga dengan menyebut pemeringkatan Federasi Sepak Bola Internasional yang menempatkan Indonesia di nomor 164 dunia (Prabowo kembali membuat ranking Indonesia lebih bagus dengan sedikit meleset, menyebutnya berada di urutan 162).
Dalam perbincangan soal ekonomi–yang selalu jadi pusat segala kritiknya, Prabowo menyebut data Badan Pusat Statistik menunjukkan 69 juta rakyat Indonesia terancam miskin. Jumlah itu merupakan gabungan angka penduduk miskin dan hampir miskin.
Deret angka tak memuaskan dari berbagai sektor itu, dalam kacamata Prabowo, menunjukkan Indonesia berada pada taraf gawat. “Ini yang menjadi keprihatinan kita bersama,” ucap Prabowo dalam video.
Ia kembali menekankan situasi genting tersebut di sela acara halalbihalal Universitas Bung Karno yang juga dihadiri oleh dua rekan oposannya, Amien Rais dan Rizal Ramli, Jumat (29/6).
“Negara kita dalam keadaan yang tidak benar. Jadi harus kita benarkan. Semua indikator sebenarnya menunjukkan kita dalam keadaan yang susah. Elite harus sadar dan rakyat berhak mengetahui keadaan sebenarnya. […] Mata uang kita lemah terus. Kita tidak berdaulat di bidang politik dan ekonomi lagi. Harus ada perubahan,” kata Prabowo.

Keterpurukan ekonomi Indonesia memang selalu jadi ‘jualan’ politik Prabowo, layaknya partai lain yang memiliki ‘dagangan’ khas masing-masing.
“Beliau mengkritik agar ada koreksi kebijakan dari pemerintah. Ini untuk perbaikan nasib bangsa,” ujar Andre.
“Jangan (keadaan) ancur terus diem,” imbuh Ferry.
Prabowo, menurut pakar komunikasi politik dan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Kuskridho Ambardi, “Terlihat selalu pada batas-batas ekonomi yang populis.”
Pada pernyataan-pernyataan sebelumnya, Prabowo bahkan menggunakan diksi cenderung sangar dan kasar.
Saat berpidato di Cikampek pada 31 Maret, misalnya, ia dengan berapi-api berkata, “Jangan-jangan karena elite kita yang goblok atau menurut saya campuran itu–sudah serakah, mental maling, hatinya beku, tidak setia pada rakyat, hanya ingin kaya di atas penderitaan rakyat.”
Belum lagi kala ia bikin geger karena menyebut kajian soal Indonesia akan bubar.
“Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tapi di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung, mereka ramalkan kita ini bubar!”
Ia saat itu panen cibiran. Selain karena dianggap menyebarkan pesimisme, juga sebab mengambil data dari novel fiksi ilmiah Ghost Fleet: A Novel of the Next World War karangan pengamat politik Amerika Serikat, P.W. Singer dan August Cole.
Prabowo bukan tong kosong nyaring bunyinya, tegas Gerindra.
“Pak Prabowo selalu mencari data dan berdiskusi dengan berbagai pakar yang memberi masukan,” kata Andre.
Sekitar 90 persen data yang dikemukakan Prabowo dalam kritiknya, menurut Kepala Departemen Informasi Publik Gerindra Ariseno Ridhwan, ialah hasil riset tahunan.
“Partai Gerindra kan punya banyak ahli ekonomi di Dewan Pakar dan Dewan Pembina, misalnya (mantan Menteri Keuangan) Pak Fuad Bawazier, (eks Gubernur BI) Profesor Sudrajat Jiwondono,” ujar Ariseno, Minggu (1/7).

Kritik Prabowo bukan bualan. Soal utang luar negeri Indonesia yang menurutnya hampir Rp 9.000 triliun, misal, disebut ekonom INDEF Bhima Yudhistira tak salah–meski menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani perbandingan tersebut tidak apple to apple.

“Rp 9.000 itu gabungan semua utang yang ada di Indonesia. Jadi bukan hanya utang negara, tapi lebih tepatnya utang nasional. Gabungan dari utang pemerintah Rp 4.100 triliun, utang BUMN Rp 600-an triliun, dan utang swasta,” kata Bhima yang dikutip dari kumparan di sela diskusi ekonomi digital di kantor Kementerian Keuangan, Kamis (28/6).
Dalam hitungan lebih ekstrem, angka utang luar negeri bahkan bisa lebih besar dari Rp 9.000 triliun. Itu kalau kredit bank ikut dimasukkan dalam taksiran.
“Kredit bank per tahun itu Rp 4.700 triliun, digabung dengan utang pemerintah Rp 4.100 triliun, hasilnya sudah Rp 8.800 triliun. Belum ditambah utang luar negeri swasta. Angkanya bisa Rp 10.000 triliun sampai Rp 11.000 triliun,” papar Bhima.
Jadi, lanjut Bhima, titik penting kritik Prabowo sesungguhnya ialah, “Bukan berarti kalau utang luar negeri dinilai masih kecil, di bawah 30 persen PDB, lalu cari utang baru terus. Akhirnya jadi nggak sehat. Krisis ekonomi ‘98 salah satunya karena utang luar negeri swasta jebol.”
Di balik layar, mayoritas kritik yang dilontarkan oleh Prabowo telah dimatangkan oleh tim kecilnya yang dijuluki Kesatria Jedi. Para ‘kesatria’ ini, menurut Andre, merupakan sejumlah anak muda lulusan universitas luar negeri dengan reputasi mentereng.
Persoalan ekonomi, menurut Dodi–sapaan Kuskridho Ambardi, memang cukup ampuh dalam mempengaruhi sikap pemilih. “Isu-isu tentang kesejahteraan dan ketimpangan punya resonansi di tingkat publik.”
Soal resonansi itu penting karena Prabowo punya pekerjaan rumah cukup berat untuk mengerek elektabilitasnya yang dalam berbagai survei berjarak jauh di bawah Jokowi.
Namun PR itu tak mudah digarap karena pendanaan politik yang terbatas. Itu sebabnya Prabowo kini menggalang dana kampanye–sembari terus melancarkan propaganda sebagai bagian dari siasatnya guna memuluskan langkah di 2019.
Pertanyaannya kemudian: seberapa efisien siasat ini bisa berpengaruh baginya?
“Jangan hanya bicara soal nominal, karena nominal pasti penuh perdebatan, dan akhirnya mengaburkan substansi kritik itu sendiri. Masyarakat juga perlu diedukasi,” kata Bhima.[Sumber: kumparan]

jabarpubllisher

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: