Jaringan Saracen, membuka mata publik bahwa kejahatan internet telah menjadi ladang pendapatan Jaringan Saracen, membuka mata publik bahwa kejahatan internet telah menjadi ladang pendapatan
Sindikat Saracen, pelaku penyebaran konten negatif dan kebencian di jejaring sosial membuka mata publik bahwa kejahatan internet telah menjadi ladang pendapatan baru bagi para... Jaringan Saracen, membuka mata publik bahwa kejahatan internet telah menjadi ladang pendapatan

Sindikat Saracen, pelaku penyebaran konten negatif dan kebencian di jejaring sosial membuka mata publik bahwa kejahatan internet telah menjadi ladang pendapatan baru bagi para penjahat.

Dengan tarif hingga Rp100 juta, sindikat Saracen membuktikan kepada publik bahwa penyedia jasa untuk kejahatan itu nyata dan ada.

“Jaringan Saracen telah membuka mata kita semua. Bahwa jasa untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum ternyata memang benar adanya,” ujar Ketua Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) Universitas Islam Indonesia Yudi Prayudi, Jumat, 25 Agustus 2017.

Menurutnya jasa sejenis ini adalah bagian dari cybercrime blackmarket. Bagi kalangan tertentu, cybercrime adalah sebuah potensi ekonomi yang sangat besar, komunitas pengguna dan penyedia selalu tumbuh untuk saling memanfaatkan satu sama lainnya.

“Dalam kasus Saracen, produk dari blackmarket tersebut adalah jasa untuk membuat, menyebarkan meme dan konten negatif yang mengarah pada SARA dan ujaran kebencian,” katanya.

Di dunia nyata, blackmarket adalah tempat khusus dimana berbagai barang ilegal dan tidak umum dapat dengan mudah didapat. Dalam dunia maya, blackmarket menjadi lebih luas lagi maknanya serta ruang lingkupnya. Selain hal yang terkait dengan barang-barang ilegal, juga terdapat beberapa produk lain yang umumnya diperjual belikan, yaitu data dan jasa.

“Termasuk diantaranya adalah jasa-jasa seputar hacking dan kampanye hitam melalui konten-konten yang negatif terhadap individu maupun organisasi,” ujarnya.

Lazimnya sebuah organisasi, kata Yudi, maka pelaku blackmarket akan memiliki peran-peran tersendiri sesuai dengan keahliannya.

Peran tersebut akan terbagi mulai dari yang sifatnya teknis operasional hingga manajerial. Pertama adalah organization leader, yaitu mereka yang mengorganisir semua bisnis dan jasa ilegal yang dijalankannya.

Kedua adalah mereka yang berperan sebagai penerima dana serta yang mencairkannya dan kemudian mentrasfernya ke rekening yang aman bagi mereka. Ketiga adalah bagian pemasaran yang berusaha mencari pihak-pihak yang akan memanfaatkan jasa mereka.

Keempat adalah bagian yang langsung terkait produk yang ditawarkannya baik berupa barang atau pun jasa.  Dan kelima adalah supporting dan teknisi sebagai bagian paling penting yang langsung terkait dengan masalah teknis pemanfaatkan komputer, dari mulai membangun programnya, posting konten, hosting dan merawat web serta memastikan bahwa layanan dari jasa yang ditawarkannya telah terpenuhi dengan baik dan sesuai dengan permintaan.

Karena itu, Yudi meyakini, jika dalam kasus Saracen kepolisian baru menangkap tiga orang. Maka bisa dipastikan ada pelaku lain yang juga memiliki peran berbeda. “Pasti ada sindikat lain yang punya peran tersendiri-sendiri,” ujarnya.

[Sumber | viva.co.id]

admin

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: